Seperti diketahui bersama permasalahan pada konstruksi jalan dimanapun selalu ada sesuai ciri khas tanah dasar di lingkungan tersebut, pemilihan jenis konstruksi, kualitas pekerjaan, metode pelaksa naan, dan lain-lain baik itu di area mainline yang langsung berhubungan pengguna jalan maupun di area slope/ lereng yang merupakan pendukung dan sangat berpengaruh dengan mainline ketika mengalami kerusakan, yang secara khusus akan dibahas pada artikel periode ini.

Perlu disadari di tol Cipali pada area tertentu terutama seksi 4 antara Cikedung-Kertajati merupakan area tanah expansive yang menjadi lembek pada saat kadar air tinggi yang secara struktur mengalami perlemahan sehingga menurunkan daya dukung terhadap beban. Bisa dibuktikan pada area-area cut slope tinggi (lebih dari 10 m’) antara KM 141- KM 143 baik jalur A maupun jalur B yang pada saat konstruksi telah dibuatkan proteksi shotcrete beton dengan tulangan wiremesh maupun untuk lereng dengan ketinggian sedang (kurang dari 10 m’) antara KM 143 – KM 145 yang diproteksi dengan pasangan batu di beberapa titik lokasi mengalami fail/kerusakan karena melemahnya daya dukung tanah dengan mengalami penurunan sehingga terjadi kekosongan/kopong dibawah proteksi lereng yang mengakibatkan konstruksi baik shotcrete beton maupun pasangan batu mengalami kerusakan/jatuh dengan sendirinya.

Pada masa menjelang bulan Ramadhan tahun 2017 pada area-area yang telah mengalami longsoran telah dilakukan penanganan yang sifatnya sementara yang dimaksudkan supaya longsoran tidak masuk ke area mainline bahkan tidak sampai masuk drainase samping jalan yang dapat mengakibatkan luapan air ke mainline dari drainase walaupun sempat beberapa kali terjadi luapan sampai dengan mainline pada musim puncak musim hujan di sekitar buIan Februari 2018 pada lokasi KM 144 B dan KM 142-141 B akibat longsoran-­longsoran lanjutan.

Penanganan sementara yang dimaksud pada waktu itu yaitu dengan membuang material longsoran sehingga terbentuk area flat (datar) di sebelah luar drainase sekitar kurang lebih 6 m’ serta melakukan regrading (pembentukan kembali) lereng sebelah luar area flat tersebut yang dimaksudkan bila ketika terjadi kembali longsoran dari lereng yang telah di regrading akan jatuh ke area flat sehingga tidak mengganggu drainase samping dan mainline.

Lokasi Over Bridge 141+600 B yang pernah mengalami longsoran diarea abutment sampai terlihat pondasi tiang pancangnya (walaupun secara str uktur, abutment & over bridge itu sendiri masih berfungsi dengan baik) yang terjadi sekitar pertengahan tahun 2017, di sekitar bulan September – Desember 2017 telah dikerjakan penanganan dari bagian project dengan membuat drainase dari struktur beton disamping kiri & kanan abutment yang berfungsi untuk mengarahkan air yang bersumber dari area over bridge ketika terjadi hujan dan area luar ROW sehingga air tidak mengganggu lereng secara liar, yang juga berfungsi sebagai pelindung abutment yang pernah mengalami longsoran dibawahnya, yang merupakan project tahap 1 sebelum dikerjakan project tahap berikutnya yaitu pembuatan saluran drainase samping jalan dengan beton cor setempat.

Pada musim hujan bulan Desember 2017 pada area-area lereng KM 142 – KM 143 yang pernah dilakukan regrading juga telah diupayakan penanaman rumput khusus (kacang-kacangan) yang di bawa dari Malaysia yang dimaksudkan untuk menambah efek kuatnya lereng terhadap longsoran karena lereng tersebut ditumbuhi rumput, walaupun pada faktanya belum dapat membantu banyak karena proses pertumbuhan yang lambat dari rumput kacang-kacangan tersebut bahkan lebih cepat tumbuhnya rumput liar setempat Pada akhir bulan April sampai awal bulan Mei 2018 di KM 141+500 B telah dilaksanakan uji coba penanganan longsoran dengan metode yang yang lain yaitu menggunakan Deltalok.

Deltalok yaitu bag (karung) yang terbuat dari geotextile non woven (masih bisa di resapi air) yang di isi material tanah dan bag yang lain diisi dengan agregat yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk dinding pena han, susunan bag antara yang satu dengan yang disampingnya dan dengan lapis diatasnya disatukan dengan bahan lain (polyphropy lene) seperti plastik, keras & berduri dengan ukuran tertentu yang berfungsi sebagai interlock yang saling mengunci antar bag.

Sebagai struktur utama yang lain di pasang geogrid (seperti anyaman net/mesh yang terbuat dari bahan yang sama dengan interlock) yang dipasang setiap 3 lapis bag memanjang ke belakang dinding deltalok dengan ukuran panjang tertentu sampai ke area lereng yang longsor yang ditimbun kembali ( backfill) dengan material geogrid sebagai baru, berfungsi penahan gaya geser tanah yang akan mengalami longsoran, karena turut di bebani material timbunan baru yang ada diatasnya. Pada proses selanjutnya di dinding luar deltalok yang sudah terpasang dan berfungsi sebagai dinding penahan dipasang hydroseeding yaitu benih rumput kacang-kacangan yang telah direndam air yang ditempelkan ke dinding deltalok yang pada waktu selanjutnya akan tumbuh sehingga dapat menambah estetika deltalok tersebut .

Pada prakteknya khusus untuk lokasi KM 141+500 B yang merupakan uji coba pertama yang didampingi langsung oleh tim PT Deltalok pada saat pelaksanaannya belum menggunakan geogrid (asumsi lereng relatif pendek) tapi hanya menambahkan material geotextile yang dipasangkan di belakang dinding deltalok sebagai pemisah antara material existing (tanah expansive) dengan material base A (yang berfungsi sebagai backfill).

Sebagai pondasi dari deltalok dibuatkan timbunan pada galian yang telah dibuat dengan dimensi penampang 1m’ x 1m’ dengan menggunakan material limestone (material berkapur) yang dipadatkan dengan excavator yang juga difungsikan sebagai alat gali. Pada waktu kedepan penanganan area longsoran dengan material deltalok akan direncanakan untuk lokasi- lokasi dengan dengan lereng yang telah mengalami kerusakan yang relatif tidak terlalu tinggi antara KM 143 – KM 145 .

Pada lokasi-lokasi lereng tinggi antara KM 141 – KM 143 yang tadinya telah diproteksi dengan shotcrete pada masa konstruksi dan telah mengalami kerusakan, direncanakan penanganan dengan metode gabion yaitu membuat dinding penahan dengan beronjong sebagai struktur utamanya. Pekerjaan ini diperkirakan akan dimulai setelah masa Idul Fitri 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *